Bersyukur di Bawah Rintik Kesabaran

oleh -1.848 views
Bersyukur Di Bawah Rintik Kesabaran

Saudaraku…

🍄 Tak asing lagi, di masa pandemi Covid-19 ini banyak terjadi perubahan pada berbagai aspek vital kehidupan.
Aspek kesehatan, ekonomi, ibadah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.
Besarnya angka sebaran virus secara global dan banyaknya korban yang berjatuhan menjadikan tinggal di rumah saja sebagai pilihan. Belajar di rumah, ibadah di rumah, dan bekerja dari rumah! Demikianlah pemerintah kita memberikan arahan.

🏘️ Seiring dengan kondisi sulit di atas, syukur alhamdulillah kita berada di sekitar ma’had atau pondok pesantren yang penuh perhatian. Hidup sebagai komunitas yang sedang berjuang menggapai ridha Allah dengan berkomitmen mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi di atas pemahaman as-salafush shalihin. Berupaya mewujudkan lingkungan salafy yang berpijak di atas ilmu dan bimbingan. Menjadikan toleransi dan cinta damai sebagai prinsip kebersamaan. Bahu-membahu di atas kebajikan dan ketakwaan dijadikan sebagai motto kehidupan. Tentu, bukan komunitas malaikat yang bersih dari noda dan kesalahan.


Baca: Imbas Covid-19 Persediaan Darah Menipis Salafy Bergerak


Saudaraku…

🌾 Ingatlah, manakala laju penularan virus Corona semakin dahsyat di tanah air dan korban pun banyak berjatuhan, maka kebijakan karantina mandiri akhirnya menjadi keputusan di lingkungan komunitas kita. Diskusi dan kajian asatidzah, tim medis, dan pengurus ma’had yang tergabung dalam Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar, menjadi panduan dalam aplikasi di lapangan.
Tak hanya masalah kesehatan dan keselamatan jiwa yang mereka pikirkan. Problem ekonomi dan ketahanan pangan ikhwah pun kerapkali menjadi pokok bahasan.
Tak luput pula, berbagai tata tertib dan aturan. Selalu digodok, dikaji, dan dievaluasi demi terwujud kemashlahatan yang didambakan. Sehingga terkadang mengharuskan adanya revisi dan perubahan. Sistem keamanan, jual beli, ekspedisi, karantina barang, hingga pengadaan lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan. Sisi lain yang tak dapat dilupakan adalah pengaturan jadwal taklim di lingkungan komunitas, jam bermain untuk anak-anak, layanan belanja di maqshaf (unit usaha pesantren), serta layanan kesehatan, dan persalinan. Semua itu dibuat tiada lain agar kita dapat memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sehingga semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Saudaraku…


Baca: Aparat Keamanan Semprot Disinfektan di Ponpes Dhiya’us Sunnah


🚊 Ketahuilah bahwa permasalahan karantina mandiri dan berbagai konsekuensinya, tak semudah yang dibayangkan. Memikirkan, mengatur, dan mencarikan solusi bagi problem yang dihadapi ikhwah, membutuhkan perjuangan, keseriusan dan kesabaran. Tak heran, bila rapat demi rapat, diskusi demi diskusi senantiasa dilakukan. Bahkan tak segan berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten di pemerintahan. Harapannya, agar semua langkah yang ditempuh itu benar-benar melalui proses kajian dan bimbingan.

Saudaraku…

🚢 Betapa semua ini adalah kenikmatan yang patut kita sadari dan syukuri.
Bersyukur kepada Allah, kemudian bersyukur kepada asatidzah, tim medis, dan pengurus ma’had yang telah berjuang dalam mengantarkan kita kepada gerbang kebaikan dan keselamatan. Setiap saat arahan dan bimbingan, mereka berikan. Penyuluhan dan pencerahan pun mereka gencarkan. Bagai pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk dalam kehausan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan,

لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَايَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Ath-Thayalisi, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, hadits no. 416)

Namun, sejauh manakah kesadaran kita terhadap berbagai kenikmatan yang tercurahkan?! Ataukah kita justru termasuk orang-orang yang tak dapat melihat kenikmatan itu sebagai kenikmatan. Sehingga berlaku abai, dan merasa tertekan atau kurang nyaman?!
Sayang seribu sayang bila demikian. Sangat dikhawatirkan kenikmatan itu dicabut oleh Allah Rabbul Alamiin atau kita akan tersisihkan dari kenikmatan, bahkan terjauhkan. Allahul Musta’an


Baca: Kembali Kepada Allah, Jalan Keluar Terbesar dari Berbagai Macam Musibah


🍂 Betapa sedihnya kita manakala tergolong hamba yang kurang bersyukur dan minim kesabaran?! Sampai kapankah kita rela mendekam di balik jeruji kenistaan?! Padahal syukur dan sabar ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Bahkan, keduanya merupakan bagian inti dari keimanan.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Iman terdiri dari dua bagian. Pertama sabar, dan yang kedua syukur.” (Uddatush Shabirin, hlm. 93)

🧾 Betapa indahnya sebuah ungkapan, “Bersyukur di bawah rintik kesabaran.”

Saudaraku…

⛵ Memang, seringkali manusia tak menyadari manakala dirinya berada dalam kenikmatan. Yang selalu bersemayam dalam jiwanya adalah kekurangan dan kesempitan. Di sisi yang lain adalah panjangnya angan-angan. Terlebih bila selalu menatap gemerlapnya dunia dan keadaan orang yang lebih berkecukupan. Jiwanya seakan meronta, “Sampai kapan aku hidup dalam penderitaan?”
Itulah manusia, tak banyak dari mereka yang pandai bersyukur kepada Allah Dzat Yang Mahakaya lagi Maharahman. Allah berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (Saba’: 34)

🍃 Padahal dengan bersyukur itulah kenikmatan yang tercurah akan semakin ditambah oleh Ar-Rahman. Kenikmatan di atas kenikmatan. Allah berfirman,

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sungguh jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian. Namun jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sungguh azab-Ku amat dahsyat.” (Ibrahim: 7)

🥀 Semoga untaian kata ini tersemat sebagai nasehat yang menyejukkan. Menjadi pengingat dalam kelalaian dan pelita dalam kegelapan. Sekaligus sebagai pendongkrak bagi kualitas syukur dan sabar kita di hari-hari penuh ujian.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang terbaik kepada-Mu.”

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

📝 20 Ramadhan 1441 H / 13 Mei 2020 M

Muhibbukum fillah Ruwaifi’ bin Sulaimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *