Disiplin Menjalankan Protokol dan Tawakkal

oleh -398 views

Hingga saat ini, Ketua Satgas Covid-19 Nasional, Letjend (Purn) Doni Monardo, masih melihat bahwa menjaga jarak dan menghindari kerumunan adalah hal yang masih sulit dilakukan. Menurutnya hal itu banyak terjadi di beberapa daerah, oleh karena itu diperlukan upaya kolektif dalam menegakkan 3 M tersebut.

“Yang berisiko adalah tanpa diketahui dia adalah carrier atau pembawa virus. Inilah yang berbahaya,” jelas Doni. Tentunya penularan penyakit, termasuk Covid-19, dan tingkat bahayanya semuanya terjadi dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.

“Inilah yang harus kita sadari bahwa setiap saat setiap detik, disiplin adalah harga mati. Sedikit saja kita lengah, kita abai dengan protokol kesehatan, maka kita akan mudah terpapar,” kata Doni Monardo menegaskan. Disiplin terhadap protokol kesehatan merupakan sebab-sebab pencegahan dan keselamatan dari Covid-19. Dalam ajaran agama Islam, setiap muslim diperintahkan untuk melakukan sebab-sebab pencegahan dan keselamatan dengan sebaik-baiknya. Kalau kita lengah, maka kita akan mudah terpapar penyakit, dengan izin Allah.

Dalam hal ini, setiap wilayah yang telah memiliki penderita atau pasien COVID-19 menjadi wilayah yang tidak lagi aman. Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat akan bahaya COVID-19 dan pemahaman bahwa penyakit yang menyerang sistem pernafasan itu benar-benar nyata dan bukan rekayasa.

“Dalam masa pandemi ini, tidak ada senjengkal tanah pun di wilayah yang telah menjadi status pandemi menjadi aman. Tidak ada. Oleh karena itu kita harus selalu waspada tidak boleh lengah,” terang Doni. Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan dan perlindungan.


baca: Ketua Satgas Covid-19 Nasional Ingatkan Bahaya Abai Protokol

Tangani Pandemi, Presiden: Fokus Nomor Satu Kita Tetap Kesehatan


Maka marilah kita sebagai muslim menjadi yang terdepan dalam sikap komitmen dan disiplin terhadap protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19. Mari kita menjalankan protokol dengan ikhlas dan sabar, disertai niat berharap pahala dari Allah dan berharap datangnya pertolongan-Nya. Terlebih agama Islam memang mengajarkan untuk hidup bersih, melakukan tindakan pencegahan, serta waspada dari penyakit menular khususnya, terlebih lagi jika telah menjadi wabah.

 

Kita harus menyadari bahwa pandemi ini merupakan musibah yang datang dari Allah Ta’ala. Berapa banyak musibah Allah timpakan disebabkan oleh dosa-dosa anak manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} الشُّورَى: 30]

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan).” (asy-Syura: 30)

Kita harus menyadari akan berbagai dosa dan kesalahan kita. Mari segera kita segera kembali kepada Allah, memohon ampun, dan bertaubat kepada-Nya. Mari kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Khususnya dalam kondisi pandemi yang sedang melanda, maka bekal taqwa semakin kita butuhkan. Karena ketaqwaan merupakan di antara sebab terbesar yang dengannya Allah akan mengangkat dan menghilangkan bencana dan musibah.

Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah bencana turun kecuali disebabkan dosa, dan tidaklah diangkat bencana kecuali dengan sebab taubat.”.

Maka termasuk bentuk taqwa kepada Allah adalah, banyak memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dengan taubat nashuha. Termasuk bagian taqwa kepada Allah, adalah banyak berdoa kepada-Nya satu-satu-Nya memohon perlindungan dan keselamatan. Demikian pula sikap disiplin menjalankan protokol kesehatan, termasuk bagian taqwa kepada Allah. Karena Allah Ta’ala memerintahkan manusia agar menempuh sebab-sebab, termasuk sebab keselamatan.

Mari jalankan protokol dengan disiplin dan sabar, karena ini merupakan keniscayaan. Kemudian serahkanlah hasilnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bersandarlah dan percayalah kepada-Nya. Hanya Allah saja pelindungmu. Yakinlah bahwa tak ada satupun yang bisa melindung dan menyelamatkanmu kecuali Allah satu-satu-Nya. Siapa pun dan apa pun dia selain Allah, pasti lemah dan tak berdaya.

Inilah hakekat tawakkal kepada Allah yang sebenarnya. Yaitu bersandar dan berserah diri kepada Allah, disertai dengan melakukan sebab-sebab. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51)} التوبة: 51]

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)


baca: Wabah Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) Antara Ujian dan Hukuman


Tawakkal merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah yang terpenting dan paling dicintai oleh-Nya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada-Nya pasti Allah yang yang menjamin dan mencukupinya. Allah Ta’ala berfirman, (artinya): “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, pasti Allah yang menjamin/mencukupinya.” (ath-Thalaq: 3). Jika Allah Yang Maha Kaya, Maha Kuat, dan Maha Perkasa yang menjamin seorang hamba, maka sang hamba itu pasti aman dan terlindungi, tak ada sesuatupun yang membuatnya sedih, takut, dan khawatir.

Maka bukanlah tawakkal apabila seseorang tidak mau melakukan sebab. Sungguh sangat disesalkan ketika banyak masyarakat yang abai protokol kesehatan, atau tidak serius menjalankannya, dengan alasan tawakkal. Ini merupakan kesalahan yang sangat besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *