Ini Penjelasan Para Ahli di Media Centre Satgas Covid-19 Nasional, tentang Klaster Keluarga dan Cara Penanganannya

oleh -1.084 views

Presiden Joko Widodo hafizhahullah telah mengingatkan klaster keluarga. Untuk itu, beliau meminta masyarakat tetap berhati-hati dan memperhatikan protokol kesehatan saat berada di rumah untuk mencegah meluasnya penularan lewat klaster keluarga.

“Karena di rumah kita sudah merasa aman. Justru di situlah yang kita harus hati-hati,” demikian kata Bapak Presiden dalam rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/9/2020).

Oleh karena itu, Presiden Jokowi juga meminta jajarannya tidak hanya fokus di tempat-tempat umum seperti yang selama ini sudah dilakukan. Ia juga meminta jajarannya mencari solusi untuk menekan penularan Covid-19 lewat klaster keluarga. “Karena yang selalu kita kejar-kejar adalah tempat-tempat umum, tempat-tempat publik, tetapi kita lupa bahwa sekarang kita harus hati-hati di klaster-klaster yang tadi saya sampaikan, klaster keluarga,” kata beliau.


Baca: Presiden Ingatkan Potensi Penyebaran Covid 19 Melalui Tiga Klaster Ini, salah satunya Klaster Keluarga


Prevalensi infeksi Covid 19 di keluarga atau klaster keluarga akhir-akhir ini semakin banyak. Hal ini disoroti oleh Analis data Pandemi Covid-19, F. Radiany dalam diskusi di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (7/9/2020).

F. Radiany mengatakan ada beberapa daerah yang terdeteksi klaster keluarga tertinggi di Indonesia.

– Lima kasus tertinggi di Bekasi dengan 155 klaster.

Sementara daerah lainnya yakni:

– Bogor 48 klaster,

– Malang 10 klaster,

– Yogyakarta 9 klaster,

– Semarang 8 klaster.

“Jadi kami mencoba menghimpun data-data, ternyata kemunculan klaster keluarga ini cukup banyak dan cukup signifikan,” katanya

Dalam diskusi virtual yang bertajuk “Cluster Keluarga dan Cara Menanganinya” tersebut, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Covid-19 Prof. Dr. dr. Akmal Taher Sp. U (K) juga turut memberikan penjelasan mengenai penularan Covid-19 dalam klaster keluarga yang terdiri dari anggota keluarga anak-anak hingga orang tua, terutama yang mengidap komorbid, sangat memungkinkan terjadi.

“Orang yang menderita penyakit penyerta atau komorbid memang lebih mudah terinfeksi Covid-19 dan jumlah angka yang meninggal lebih tinggi,” ujarnya


Baca: Pedoman Pemerintah Untuk Pencegahan Penularan Covid-19 Pada Individu


Tak hanya itu, dia melanjutkan, prevalensi anak-anak Indonesia yang tertular Covid-19 lebih tinggi dibandingkan negara lain. Meski belum ada kepastian data mengenai persoalan ini, dia melanjutkan, dokter anak menduga bahwa daya tahan tubuh anak lebih rendah akibat kurangnya asupan gizi memungkinkan infeksi virus lebih tinggi.

Akibatnya, dia melanjutkan, anak-anak tidak hanya bisa tertular virus ini melainkan juga menularkan ke anggota keluarga yang lain. “Poinnya ketika ada kelompok rentan maka harus diperlakukan lebih hati-hati. Kalau tidak, kita tidak bisa menahan angka kasus (klaster keluarga) yang meningkat,” katanya.

Prof. Akmal meminta masyarakat yang masih tinggal dengan orang tua supaya sangat menjaga mereka. Artinya, ia meminta masyarakat juga menyadari dan tidak langsung berinteraksi erat dengan anggota keluarganya, terutama setelah keluar rumah.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia-PDP, dr. Erlang Samoedro Sp P(K) menyebutkan dua penyebab penyebab munculnya klaster keluarga Covid-19 di Indonesia.

PENYEBAB PERTAMA yakni, salah satu anggota keluarga yang terpapar Covid-19 di luar rumah dan menularkannya pada anggota keluarga lainnya.

“Atau bepergian ke mana, kemudian membawa masuk ke dalam keluarga dan terjadi transmisi di dalam keluarga. Bisa juga anak-anak yang main di sekitar lingkungan, kemudian datang membawa virus, kemudian menularkan ke yang lain. Itu yang terjadi,” papar beliau.

PENYEBAB KEDUA, kata Erlang, adalah karena adanya pembebasan aktivitas di masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Ya ini akibatnya karena (aktivitas) sudah dibebaskan, jadinya orang beraktivitas seperti biasa dan yang lagi-lagi sekarang orang tidak sadar bahwa dia terinfeksi oleh lingkungan sekitar misalnya dari kantor atau teman atau ketika lagi apa lagi bersosialisasi itu yang jadi masalah,” kata Erlang.

Klaster keluarga ini menurut beliau berbahaya. Sebab di dalam sebuah keluarga, rumah tersebut bisa saja ada orang-orang yang rentan seperti orang tua hingga anak-anak.

“Ada beberapa kelompok rentan tertular, mortalitas lebih tinggi seperti orang tua, apalagi yang punya penyakit komorbid seperti paru, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), jantung, diabetes,  dan hipertensi. Mereka sangat rentan terinfeksi, kondisinya memburuk, dan kemudian meninggal,” ujar beliau.

Oleh karena itu, Erlang meminta seluruh anggota keluarga di rumah harus tetap menjaga protokol kesehatan untuk mencegah terpapar Covid-19.

“Dia harus sadar sendiri, sadari juga dan jaga jika di rumah ada orang tua atau anak-anak yang punya penyakit supaya anggota keluarga lainnya tidak ikut terpapar virus. Selain itu, pastikan asupan makanan dan minuman tetap bergizi baik, hindari makanan junk food, dan tetap berolahraga untuk menjaga imunitas tubuh,” pungkas beliau.

Penjelasan para ahli di atas, menjadi bekal bagi kita semua untuk semakin waspada. Terlebih kondisi saat ini masih menunjukkan belum membaik. Qaddarallah.

Baca: Jubir Covid: Penambahan Kasus Positif Baru Masih Berfluktuasi

Mari kita menempuh sebab-sebab pencegahan dan keselamatan. Patuhi protokol pemerintah, dengan penuh kesadaran dan kedisiplinan, diiringi kesabaran. Tak lupa kita selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sambil kita terus banyak beribadah, meningkatkan iman dan taqwa kepada-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertawakkal kepada-Nya satu-satu-Nya.

Ya Allah, lindungilah kami, keluarga kami, dan masyarakat kami. Ya Allah segera angkatlah wabah ini. Amin Ya Rabbal Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *