,

Jubir Pemerintah: Ketidakpatuhan Terhadap Jaga Jarak Masih Lebih Tinggi

oleh -322 views

Juru Bicara Pemerintah, Prof. Wiku Adisasmito, kembali menyampaikan penjelasan di Media Center Graha BNPB Jakarta, pada Kamis (12/11/2020). Jubir menyampaikan bahwa di banyak belahan dunia saat ini kasus Covid-19 menurun. Namun di saat bersamaan ada yang mengalami lonjakan, bahkan muncul fenomena second wave. Second wave (lonjakan kedua) ini adalah tren kenaikan kasus yang kembali memuncak setelah sebelumnya sempat melandai.

Dalam penjelasannya, Prof. Wiku menyatakan, bahwa lonjakan kasus merefleksikan kenaikan kasus aktif atau orang yang sakit, baik diisolasi maupun dirawat, akibat Covid-19. Menurut WHO umumnya gejala akan muncul atau dapat dirasakan rata-rata 5 atau 6 hari setelah terpapar virus Covid-19, atau paling lama adalah 14 hari. Kadang-kadang juga tidak tampak sakit. Pada umumnya kita dapat membedakan 2 istilah:

  • Asimptomatik: bisa menularkan tanpa menunjukkan gejala apapun.
  • Presimptomatik: orang yang masih dalam tahap pengembangan gejala, atau berada pada masa inkubasi.

Orang Yang Tampak Sehat, Tak Berarti Bebas Covid-19

Kemudian Jubir yang sekaligus Koordinator Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 ini memaparkan data penelitian. Bahwa menurut tiga penelitian dari Cronbrikler at All pada 506 pasien dari 36 studi pada tahun 2020; He at All pada 50 pasien dari 114 studi pada tahun 2020; You at All pada 79 pasien dari 3 rumah sakit di Wuhan Cina, tahun 2020; menyatakan bahwa kebanyakan penderita Covid-19 yang tidak bergejala adalah populasi berusia muda, dan memiliki potensi menularkan kepada orang di sekitarnya. Hal ini fenomenanya juga terjadi di Indonesia.

“Berdasarkan hasil riset tersebut, maka masyarakat perlu menyadari bahwa apabila seseorang terlihat sehat bukan berarti mereka terbebas atau tidak berada dalam kondisi sakit,” kata Prof. Wiku

Ketidakpatuhan Masyarakat Terhadap Jaga Jarak dan Menjauhi Kerumunan Lebih Besar

Prof. Wiku lalu menyampaikan sebuah data yang menunjukkan bahwa masyarakat lebih tidak patuh terhadap jaga jarak dan menjauhi kerumunan dibandingkan memakai masker. “Dengan melihat data perubahan perilaku per 12 November 2020 masih terlihat rata-rata ketidakpatuhan terhadap jaga jarak dan menghindari kerumunan masih lebih tinggi dibandingkan dengan memakai masker,” ujarnya.

Oleh karena itu Satgas Penanganan Covid-19 menekankan bahwa kedisiplinan terhadap protokol 3M dalam setiap kegiatan, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain, adalah sebuah keharusan. “Jika orang lain tidak menjaga jarak, jadikanlah diri Anda sebagai penggerak perubahan pada lingkungan Anda. Lakukan, dan ingatkan orang lain! Jika Anda tidak bisa mengendalikan penjagaan jarak di sekitar Anda maka jauhilah kerumunan tersebut!” kata Jubir menekankan.

Setiap Perilaku Pasti Ada Akibatnya

“Ingat, bahwa setiap perilaku pasti ada akibatnya! Jika Anda masuk ke dalam kerumunan, maka akan membawa risiko penularan, tidak hanya untuk Anda sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang terdekat!” tandas Wiku.

“Saya ingatkan kembali bahwa efektifitas penekanan risiko penularan akan lebih maksimal jika kita menerapkan 3M secara bersamaan,” lanjutnya. Jubir lalu menyebut, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, oleh karena itu bila kita berhasil menekan kasus aktif, maka kita telah berkontribusi dalam menekan kasus aktif dunia. Di sisi lain, apabila kita lengah maka kita pun akan memberikan dampak yang buruk pada penanganan Covid-19 di dunia.

“Sekali lagi, saya imbau bagi masyarakat untuk berhati-hati karena pandemi masih berlangsung. Jangan lengah untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu pula, Jubir Satgas Penanganan Covid-19 juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen baik tenaga kesehatan, komunitas, pemerintah, maupun masyarakat, yang karena kerja samanya bisa bertahan di masa pandemi Covid-19 ini sampai sekarang. Semangat untuk sehat jangan sampai luntur untuk memperjuangkan ketahanan kesehatan masyarakat.

Jangan lupa, iringilah setiap upaya Anda dengan doa dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa. Allah Ta’ala Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Berdoalah kepada Allah satu-satu-Nya, jangan sekali-kali berdoa kepada siapa pun dan apa pun selain-Nya. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Yakinlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menolong kita. Mari kita mengevaluasi diri. Kita terlalu banyak dosa dan kemaksiatan. Mari segera kembali kepada-Nya. Sungguh pintu ampunan-Nya terbuka luas. Tingkatkan pula iman dan taqwa kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *