Jubir Satgas Covid-19: Kasus dan Penularan Masih Tinggi, Bila Tidak Mendesak Sebaiknya Di Rumah Saja

oleh -469 views

Perpindahan dari resiko rendah ke resiko yang lebih tinggi adalah tanda-tanda bahwa pemerintah daerah dan masyarakat merasa terlalu nyaman dan mulai melupakan pentingnya upaya pencegahan penularan Covid-19. Oleh karena itu, Koordinator Tim Pakar dan Jubir Pemerintah Untuk Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito memohon agar hal ini menjadi perhatian bagi semua.

“Keputusan untuk keluar rumah harus dipikirkan secara matang dan mempertimbangkan semua risiko yang ada,” kata Jubir dalam keterangan pers, Selasa (20/10/2020).


baca: Kunci Utama Menghadapi Musibah Covid-19: Iman, Aman, Imun

Panduan Pemberdayaan Masyarakat Pesantren Dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Pesantren


Selain itu Prof Wiku juga mengajak masyarakat untuk belajar dari penelitian terkait Covid-19. Bahwa terdapat berbagai studi yang memperlihatkan adanya linearitas antara penekanan mobilitas masyarakat dan penurunan kasus dan kematian akibat Covid-19. “Menurut (penelitian) Zhou, et Al (2020), pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 20% dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 33%, dan menunda kemunculan puncak kasus selama 2 minggu. Ini adalah hal yang penting,” papar Wiku.

Lalu, Prof. Wiku melanjutkan, bahwa pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 40%, dapat melandaikan kurva kasus Covid-19 sebanyak 66% dan menunda kemunculan puncak kasus selama 4 minggu. Ini adalah hal yang luar biasa. Bahkan pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 60% dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 91% dan menunda kemunculan puncak kasus selama 14 minggu.

Sedangkan studi lainnya dari Yilmazkuday tahun 2020, dengan judul “Stay at Home Worth to Fight Against Covid-19: International Evidence from Google Mobility Data”, dan dibuat dari 130 negara. Menyatakan bahwa jika 1% peningkatan masyarakat yang berdiam di rumah, maka akan mengurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan. Bahkan 1% pengurangan mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum baik di terminal bus, stasiun kereta atau bandara, maka akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan.

“1% pengurangan kunjungan masyarakat ke retail (pusat perbelanjaan) maupun tempat rekreasi, juga akan mengurangi 25 kasus dan 3 kematian mingguan. Begitu juga apabila terjadi pengurangan 1% ke tempat kerja atau work from office, akan mengurangi 18 kasus dan 2 kematian mingguan. Bisa kita bayangkan berapa banyak nyawa yang bisa kita lindungi dengan pengurangan kunjungan seperti tadi,” ujarnya.

Bagaimana jika pengurangan tersebut semakin besar dari angka 1%? Tentu makin nyawa yang bisa kita lindungi, biidznillah.

Kemudian, Prof. Wiku mengingatkan, bahwa “Angka kasus Covid-19 dan penularannya di Indonesia masih tinggi. Apabila tidak mendesak sebaiknya mengurungkan niat untuk berlibur, dan (sebaiknya) tetap di rumah saja.” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Wiku juga mengajak masyarakat agar belajar pula dari pengalaman saat libur lebaran Idul Fitri (22 – 25 Mei 2020) dan Hari Kemerdekaan RI (20 – Agustus) tahun ini. Ketika libur Idul Fitri, terdapat kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69 – 93% dengan rentang waktu 10 – 14 hari. Lalu ketika liburan HUT RI, kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan naik sebesar 58 – 118% pada pekan ketiga Agustus dengan rentang waktu 10 – 14 hari. Selain itu terjadi juga kenaikan absolut pada posivity rate (hasil tes positif) yang naik sampai dengan 3,9% dalam dua pekan di tingkat nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *