,

Jubir: Zonasi Risiko Menunjukkan Perkembangan Ke Arah Yang Tidak Diharapkan

oleh -112 views

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 melaporkan bahwa secara umum zonasi risiko pada minggu ini (per 14 Februari 2021) menunjukkan perkembangan ke arah yang tidak diharapkan. “Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kabupaten/kota di zona merah dan zona orange,” kata Jubir, Prof. Wiku, dalam siaran pers di Media Center, Graha BNPB Jakarta, Kamis sore 18/02/2021.

Jubir memaparkan data Zona Merah pekan ini jumlahnya meningkat dari 43 kabupaten/kota menjadi 44 kabupaten/kota. Zona Orange meningkat dari 346 kabupaten/kota menjadi 359 kabupaten/kota. Sebaliknya, kata Jubir, Zona Kuning dan Zona Hijau yang seharusnya terus diupayakan agar bertambah jumlahnya malah mengalami penurunan. Zona kuning jumlahnya menurun dari 109 kabupaten/kota menjadi 96 kabupaten/kota, sedang zona hijau menurun dari 12 kabupaten/kota menjadi 11 kabupaten/kota.

Jubir menyebutkan, bahwa zonasi risiko ini dianalisis berdasarkan 3 indikator, yaitu: epidemiologi, kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Meskipun pada minggu ini terjadi penurunan kasus, namun zonasi tetap mengalami pergeseran ke arah yang lebih berisiko. Apa artinya? “Ini menunjukkan bahwa penurunan kasus saja tidak cukup untuk membuat sebuah kabupaten/kota bergeser zonasinya ke arah yang kurang berisiko. Diperlukan konsistensi dalam upaya penanganan kasus yang masih ada, agar dapat menurunkan kematian dan meningkatkan kesembuhan. Selain itu, testing dan treacing juga menjadi salah satu indikator yang mempengaruhi tingkat risiko penularan di suatu daerah,” papar Jubir.

Dalam siaran pers tersebut, Jubir Pemerintah meminta kepada seluruh bupati/walikota di Indonesia untuk rutin memantau perkembangan risiko wilayahnya, termasuk anggota masyarakatnya, masing-masing bisa melihat di website covid19.go.id pada menu peta risiko [ https://covid19.go.id/peta-risiko ]

“Mohon kepada bupati/walikota pada masing-masing daerah, utamanya yang masih berada di zona merah dan zona orange, untuk segera membenahi penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing, sehingga dapat bergeser ke arah yang lebih baik,” pesan Jubir.

Kerja keras, kesungguhan, dan kedisiplin selalu terus dibutuhkan. Ini semua juga sangat membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Pandemi yang berkepanjangan ini membutuhkan kesabaran dari semua pihak. Dengan kesabaran akan membuat semua pihak bisa mengendalikan diri.

Allah Ta’ala berfirman, (artinya):

“Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan bersabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Musibah berat, apalagi yang berkepanjangan, akan membuat lemah jiwa dan fisik seseorang. Maka di sini bekal sabar sangat dibutuhkan. Dia harus melawan musibah itu dengan kesabaran, tawakkal kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan senantiasa merasa butuh kepada-Nya. Pada ayat ini, Allah memberitakan bahwa “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.”, jika Allah bersama hamba-hamba-Nya yang bersabar, maka Allah akan berikan kepadanya pertolongan-Nya. Sehingga musibah itu pun menjadi ringan bagi si hamba tersebut, atau bahkan Allah angkat musibah itu darinya.

Kita perlu menyadari bahwa pandemi Covid-19 ini nyata adanya dan masih berlangsung. Sadarilah ini sebagai musibah dan ujian dari Allah Ta’ala. Kita harus menghadapinya dengan penuh keimanan dan kesabaran. Sebagai hamba yang lemah, penuh dosa dan salah, mari kita segera kembali kepada Allah. Segera bertaqarrub kepada-Nya, segera bersimpuh di hadapan-Nya, ruku’ dan sujud, seraya bertaubat dan mohon ampunan-Nya.


baca: Agar Pandemi Segera Berakhir, Satgas Nasional: Mari Masyarakat Patuh, Saling Mengingatkan dan Menegur

Keprihatinan Satgas Nasional Atas Lonjakan Kasus Yang Mencapai Rekor Baru Pada Pekan Lalu


Sebagai hamba-hamba yang beriman kepada-Nya, kita meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu musibah dan ujian yang Allah timpakan kepada umat manusia. Sebagai hamba beriman, hendaknya musibah pandemi ini bisa mengetuk hati kita. Agar segera tersadar, bahwa ini terjadi sebagai akibat dosa dan kemaksiatan anak manusia. Segera takut dan tunduklah kepada Allah.

 

Ketua Satgas Covid-19 Nasional pada Jum’at 16 Oktober 2020 yang lalu berpesan:

“Saya sampaikan kepada masyarakat semua untuk patuh kepada protokol kesehatan. Supaya kita aman. Yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun dan air mengalir, atau kalau tidak ada tempat cuci tangan yang layak bisa menggunakan handsanitazer.

Tetapi itu saja belumlah cukup, harus dilengkapi dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus bersabar menghadapi musibah ini, dengan bersabar diharapkan kita bisa mengendalikan diri. Kita diminta untuk patuh kepada protokol kesehatan, belum sebanding dengan perjuangan, pengobanan, dan penderitaan para dokter yang merawat pasien di rumah sakit untuk melayani pasien. Apakah itu pasien Covid maupun pasien non-Covid. Karena ternyata tidak sedikit dokter umum yang juga akhirnya wafat karena melayani pasien yang bukan pasien Covid. Ternyata tanpa diketahui pasien tersebut adalah OTG (Orang Tanpa Gejala), yang mana orang tanpa gejala pun dapat menulari orang-orang yang lain, termasuk para dokter.

Kemudian, terkait dengan masalah tersebut, di samping tadi saya katakan harus memproteksi diri kita supaya aman dan juga meningkatkan keimanan, maka kita pun harus meningkatkan imunitas tubuh kita,” demikian pesan KaSatgas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *