,

Keterisian Ruang ICU dan Isolasi Makin Meningkat, Indonesia Dalam Keadaan Darurat!

oleh -297 views

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyampaikan perkembangan kondisi keterisian tempat tidur di ruang ICU dan ruang Isolasi Rumah Sakit di Indonesia Jika dilihat pada tren perkembangannya, keterisian ruang ICU dan Isolasi secara nasional ini semakin meningkat dan mengkhawatirkan. Bahkan di beberapa daerah keterisian tempat tidur untuk ICU dan Isolasi per 2 Januari 2021 sudah melebihi 70%! Ini di antaranya terjadi di: DKI Jakarta, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

“Hal ini dapat menjadi alarm bagi kita, bahwa kita sedang dalam keadaan darurat! yang ditandai dengan ketersediaan tempat tidur yang semakin menipis!” kata Prof. Wiku dalam konfrensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (5/01/2021).

Bahkan Prof. Wiku menyebutkan tenaga kesehatan juga terbatas. Tren kematian para dokter makin meningkat dalam sebulan terakhir. “Perlu dipahami bahwa masih tersisanya sedikit tempat tidur untuk pasien Covid-19 ini belum tentu bisa digunakan, karena terbatasnya tenaga kesehatan. Apalagi, sampai saat ini telah ada sebanyak 237 dokter yang meninggal, di mana tren jumlahnya terus meningkat semenjak bulan Oktober, apalagi terutama di bulan Desember,” tambahnya.


baca: Presiden Meminta Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Satu Tahun, Kita Harus Kerja Keras Agar Pandemi Segera Selesai

BPOM Mengawal Keamanan, Khasiat, dan Mutu Vaksin COVID-19 dengan Menerapkan Standar Internasional


Disampaikan oleh Jubir, bahwa jika masyarakat terus abai, dan meninggalkan kasus baru, maka fasilitas kesehatan kita tidak akan cukup. Satu-satunya cara adalah dengan mencegah penularan, yaitu tidak berkerumun dan menjalankan 3M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kurumunan).

Kondisi ini benar-benar hendaknya membuat kita semakin waspada dan menahan diri. Mari kita laksanakan sebab-sebab keselamatan dan pencegahan penyakit, antara lain pelaksanaan protokol kesehatan, termasuk pembatasan mobilitas dan menghindari kerumunan. Tak lupa, iringi upaya serius ini dengan banyak berdoa kepada Allah dan memohon kekuatan dan pertolongan-Nya. Ingat, tanpa pertolongan-Nya manusia tak memiliki daya dan kekuatan apa pun!

Sikap abai dan lalai sangat berbahaya, tak sesuai dengan ajaran agama. Harus ada ikhtiar menempuh sebab, dalam bentuk disiplin patuh protokol kesehatan dan aturan. Namun demikian, tak boleh kita bersandar kepada sebab dan kemampuan manusia. Bersandarlah kepada Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa. Karena selamat dan celaka, sehat dan sakit, susah dan senang, serta segala sesuatu semuanya kembali kepada Allah Ta’ala. Hanya kepada-Nya hendaknya hamba beriman bertawakkal.

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *