,

PB IDI: PSBB Berbasis Komunitas Terkecil. Komunitas Ponpes Salafy telah Mewujudkannya Lebih Dulu

oleh -1.502 views
Sabar Menjalankan Aturan PSBB

Persebaran Covid-19 dan penularannya di negeri nusantara masih sangat tinggi. Update terbaru (16/05) terdapat 529 kasus baru Covid-19 periode 15-16 Mei 2020. Sehingga total tercatat 17.025 kasus Covid-19 di Indonesia. Sementara itu tercatat 1.089 pasien Covid-19 meninggal di Indonesia. Kasus baru terbanyak tercatat di Jawa Timur, yaitu 184 kasus. Kemudian disusul DKI Jakarta sebanyak 107 kasus, Sulawesi Selatan 46 kasus, Jawa Tengah 31 kasus, dan Jawa Barat 22 kasus.

Sehingga masih terus perlu meningkatkan #BersatuLawanCovid19 dari semua pihak tanpa kecuali. PB IDI pada 10/5/2020, melalui ketua umumnya menyarankan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berbasis komunitas terkecil. Kenapa demikian? “Barangkali akan lebih tepat PSBB itu dikerjakan berbasis komunitas terkecil, desa atau RT/RW, karena kalau berbasis komunitas terkecil maka pendisiplinan dan pengawasan itu akan lebih bagus.” ujar ketua umum PB IDI. Ini merupakan bentuk peningkatan upaya, dengan melibat semua pihak sampai pada komunitas terkecil di masyarakat.

Siapa yang tahu, ternyata komunitas ini telah menerapkan konsep yang disarankan IDI tersebut sejak beberapa waktu sebelumnya. Tak disangka, komunitas ini telah menempuh langkah maju lebih dulu.

Mari kita menengok upaya serius dan pelaksanaan protokol pencegahan Covid-19 di komunitas Salafy Ponpes Minhajul Atsar Jember, demi mewujudkan komunitas yang bebas Covid-19.


Baca: Pondok Pesantren Ini Peduli Terhadap Pencegahan Covid-19, Ini Faktanya


Pertengahan Februari – Akhir Maret

  1. Melakukan edukasi dan penyuluhan tentang :
    1. Pentingnya PHBS, CTPS, dan bahaya virus Corona
    2. Penjelasan secara spesifik bahaya Covid-19 dan pentingnya penerapan protokol-protokol pencegahan
  2. Menggencarkan pelaksanaan PHBS, CTPS, disinfeksi, disertai penyediaan sarana yang memadai di setiap sudut kompleks pesantren. Demikian pula penerapan Social Distancing, Physical Distancing, tidak berjabat tangan, pemantauan bagi yang sakit, penyediaan ruang isolasi, dll. Tidak hanya untuk para santri, namun juga untuk warga komunitas yang tinggal di kompleks pemukiman. Disertai pendampingan dan kontrol ketat dalam pelaksanaannya.
  3. Menanamkan kepada seluruh warga pesantren dan warga pemukiman komunitas tentang:
    1. Dalil-dalil agama memerintahkan kita untuk melakukan tindakan pencegahan dari penyakit menular, terlebih lagi penyakit menular yang mewabah.
    2. Kewajiban menaati pemerintah dalam hal kebaikan. Termasuk menaati imbauan dan arahan pemerintah terkait percepatan pencegahan dan penanganan Covid-19.
  4. Mengeluarkan imbauan-imbauan tertulis untuk para santri dan warga komunitas, tentang:
    1. Keharusan melaksanakan protokol pencegahan Covid-19 dengan tertib, disiplin, dan penuh kesadaran. Baik di kelas saat proses KBM berlangsung, di masjid, di halaman, maupun ketika di lingkungan perumahan.
    2. Kontrol ketat terhadap kebersihan seluruh kompleks pesantren (masjid, asrama, halaman, kantor) dan perumahan warga pemukiman sesuai standar protokol. Termasuk disinfeksi rutin.
    3. Membatasi tamu dan pemberlakuan protokol ketat bagi siapapun yang datang, antara lain dalam bentuk pengukuran suhu,
    4. Tidak mengizinkan orang tua yang tinggal di luar kota untuk berkunjung ke Pesantren.
    5. Membatasi dan memberlakukan protokol ketat bagi warga pemukiman komunitas yang bekerja di luar kompleks perumahan.
    6. Shalat di rumah saja, tidak lagi shalat berjama’ah dan shalat Jum’at di masjid Pesantren (kecuali santri).
    7. Memaksimalkan untuk berada di rumah saja.
  5. Untuk santri yang sistem full day, maka diberlakukan sekolah di rumah, sesuai imbauan Pemerintah, sebagaimana tertuang dalam surat edaran no. 08/MMA-B/07/1441 tertanggal 16 Maret 2020.
  6. Adapun santri yang sistem boarding school diputuskan untuk tidak dipulangkan. Hal ini sesuai amanah:
    1. Kemenag RI 14 Maret 2020 terhadap Pondok Pesantren yang menerapkan sistem boarding (menginap) di asrama, agar mengambil upaya-upaya ekstra dalam penerapan PHBS dan penanganan Covid-19.
    2. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional dalam rapat bersama komisi IX DPR RI tanggal 24 Maret 2020, bahwa :
      • Pondok Pesantren diminta mengisolasi diri
      • Tetap belajar di pesantren dan dijaga tidak keluar, serta tidak ada warga pesantren yang kontak dengan orang sakit.
      • Kalau pesantren diliburkan justru berpotensi untuk terpapar Covid-19 karena mereka akan berinteraksi dengan dunia luar.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam surat no. 14/MMA-B/08/1441 tertanggal 28 Maret 2020.

  1. Membentuk Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember, sebagaimana tertuang dalam SK no. 12/MMA-A/07/1441 tertanggal 21 Maret 2020.

Baca :


Awal April – Sekarang

  1. Memberlakukan Program Karantina Wilayah Mandiri. Dengan menutup total portal pintu gerbang masuk kompleks Pesantren dan Pemukiman Komunitas. Seluruh warga tidak diperkenankan keluar portal. Sehingga kompleks benar-benar terjaga dari pihak luar dan sangat minim interaksi dengan orang luar.
  2. Masa Karantina Wilayah Mandiri (Self Isolation) dimulai tanggal 8 Sya’ban 1441 H/ 2 April 2020 M. Adapun masa berakhirnya belum bisa ditentukan.

Selama masa Karantina Mandiri, semua protokol pencegahan Covid-19 tetap dilaksanakan dengan ketat, tertib, disiplin, dan penuh kesadaran.

Sebagai bagian dari Karantina Mandiri ini, selama 14 (empat hari) pertama, seluruh warga Ponpes dan Pemukiman Komunitas (dewasa dan anak-anak) tetap berada di rumah tidak diperkenankan keluar rumah.

  1. Adapun kebutuhan dasar warga Pesantren dan Pemukiman komunitas difasilitasi oleh Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember bekerja sama dengan Unit Usaha Pesantren, dengan sistem swadaya bersama. Sehingga warga tercukupi segala kebutuhannya tanpa harus beraktivitas keluar portal pintu gerbang.
  2. Dengan program Karantina Wilayah Mandiri ini, diharapkan terwujud:
    • Pemukiman homogen yang bersih dan steril.
    • Pemukiman yang menerapkan protokol pencegahan Covid
    • Tidak ada warga yang tertular Covid-19.
    • Tidak ada keluar masuk orang.
  1. Pelaksanaan program Karantina Wilayah Mandiri ini berjalan sangat efektif. Warga Pesantren dan Pemukiman menjalankannya dengan tertib, disiplin, dan kesadaran tinggi. Pengawasan dan kontrol pelaksanaan dijalankan oleh Satgas Tanggap Covid-19 Ponpes dengan cara santun dan baik.

Dalam menempuh langkah ini, pihak Ponpes dan Satgas Tanggap Covid-19 Minhajul Atsar Jember juga berkonsultasi kepada pihak-pihak berwenang melalui surat tertulis, agar mendapat arahan dan masukan. Pihak-pihak berwenang tersebut merespon dengan baik surat yang diajukan dan memberikan dukungan. Berikut tanggapannya:

  1. BPBD Jember mengatakan, “Program PP Ma’had Minhajul Atsar sudah bagus dan telah menerapkan anjuran Pemerintah. Bisa ditiru oleh PP yang lain.”
  2. Ketua Satgas RS Univ. Airlangga dr. Prastuti, Sp.P, Surabaya, menyatakan, “Program PP. Minhajul Atsar sudah bagus.”
  3. Ery, Sp.A(K), anggota Satgas RS Syaiful Anwar Kodya Malang, menyatakan, bahwa Program Karantina yang dilakukan ini sudah bagus, seandainya hal ini diterapkan oleh pihak-pihak lain maka akan sangat membantu pemerintah.

Lingkungan Bersih dan Sehat, sekaligus Penuh Iman dan Taqwa

Di samping lingkungan pemukiman yang bersih dan sehat, yang jauh lebih penting dari itu semua, adalah juga mewujudkan lingkungan yang penuh dengan iman dan taqwa. Warga komunitas yang cinta terhadap ilmu agama dan siap sedia mengamalkannya. Berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah di bawah bimbingan para ulama salaf dalam pemahaman dan pengamalannya.

Kebahagian dunia akhirat menjadi cita-cita dan tujuan utama. Iman dan Taqwa merupakan bekal yang sangat penting dalam menghadapi berbagai problem. Sehingga terwujud komunitas dan generasi yang beriman, bersabar, bersyukur, dan bertawakkal hanya kepada Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *