,

Pemerintah Izinkan Shalat Tarawih dan Idul Fitri: Terbatas Pada Komunitas

oleh -462 views

Pemerintah mengizinkan pelaksanaan Shalat Tarawih dan Salat Idul Fitri (Ied) 1442 hijriah secara berjamaah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hal ini disampaikan Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam keterangan persnya usai mengikuti rapat yang dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Senin (05/04/2021) sore, di Kantor Presiden, Jakarta.

“Khusus mengenai kegiatan ibadah selama Ramadan dan ibadah Idul Fitri, yaitu Shalat Tarawih dan Shalat Idul Fitri, pada dasarnya diperkenankan atau dibolehkan. Yang harus dipatuhi adalah protokol kesehatan harus dilaksanakan dengan sangat ketat,” ujarnya.

Menteri PMK meminta agar pelaksanaan shalat Tarawih dilakukan dengan menerapkan protokol kesahatan dengan sangat ketat, dan terbatas hanya lingkup komunitas.

“Yang harus dipatuhi adalah, protokol kesehatan harus dilaksanakan dengan sangat ketat. Kemudian jama’ahnya boleh di luar rumah, tapi dengan catatan harus terbatas pada komunitas. Jadi di lingkup komunitas, di mana para jama’ahnya memang sudah dikenali satu sama lain. Sehingga jama’ah dari luar mohon supaya tidak diizinkan,” kata Menko PMK.

Begitu pula dalam melaksanakan shalat berjama’ah ini, Menko PMK meminta agar diupayakan untuk dibuat sesimpel mungkin sehingga waktunya tidak berkepanjangan, tidak terlalu panjang. Hal ini mengingat masih dalam kondisi masih darurat ini.

Kemudian mengenai shalat Idul Fitri, juga sama diizinkan. Namun Menko PMK juga menenkankan pelaksanaan terbatas hanya pada komunitas.

“Jadi diizinkan untuk melaksanakan shalat di luar rumah. Tetapi jama’ahnya harus bersifat komunitas, yaitu dikenal satu sama lain. Dan juga diupayakan untuk mematuhi protokol yang sangat ketat,” tegasnya.

Menko juga memintas supaya menjaga untuk tidak terjadi kerumanan dan konsentrasi orang. Terutama pada saat sedang akan datang menuju ke tempat shalat jama’ah, baik itu di lapangan maupun di masjid, dan ketika saat bubar dari shalat jama’ah.

“Supaya dihindari betul adanya kerumunan yang terlalu besar, sehingga bisa semuanya berjalan dengan aman,” pungkasnya.

 

Sumber: setkab.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *