Pencapaian dan Evaluasi Kapasitas Testing di Indonesia

oleh -30 views

Salah satu hal utama yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan Covid-19 adalah: kapasitas pemeriksaan laboratorium atau Testing. Kapasitas Testing ini menentukan kemampuan sebuah wilayah untuk menjaring kasus baru sedini mungkin. Sehingga dapat memaksimalkan menekan angka penularan, meningkatkan angka kesembuhan, dan menurunkan angka kematian. Demikian dipaparkan oleh Prof. Wiku selaku Koordinator Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, di Istana Kepresidenan, pada Kamis (19/11/2020).

Wiku yang sekaligus Jubir Pemerintah ini, mengatakan bahwa saat ini pemerintah masih mengejar ketertinggalan pencapaian angka testing yang ditetapkan oleh WHO. Standar testing per wilayah disesuaikan dengan kepadatan populasi di dalamnya. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang tinggi maka diperlukan pelaksanaan testing sebanyak 267 ribu orang per minggu. Sejak awal bulan Juni sampai pekan ke-3 Oktober terlihat adanya peningkatan testing yang baik. Tetapi kembali melemah pada 2 pekan setelahnya. Dan kembali melesat sampai pekan ini dan hampir mencapai target WHO, yaitu berada di angka 86,25% pada November pekan ke-2.


baca: Perkembangan Harian Kasus Covid-19 di Indonesia hingga 19 November 2020

Kasus Aktif Tinggi Merefleksikan Penyebaran Kasus Masih Tinggi atau Karena Testing Tinggi


Wiku menegaskan bahwa kondisi ini menjadi evaluasi bersama, khususnya bagi pemerintah daerah terkait kapasitas testing. Pastikan setiap daerah mengevaluasi kemampuan testingnya, dilihat dari laboratorium yang ada, kemampuan laboratorium itu untuk mengetes, dan melaporkanya.

Kendala dan Tantangan

“Dari data yang kami dapatkan terdapat tren menurun kapasitas testing di hari-hari tertentu, khususnya saat hari liburan. Ini harusnya kita hindari. Karena kita sudah cukup lama menghadapi keadaan Covid-19 ini. Kami menyayangkan sekali hal ini terjadi. Mengingat virus ini tidak mengenal hari libur. Maka kita tidak lepas tangan dalam kondisi ini,” ujar Wiku.

Jubir Pemerintah ini mengimbau, bahwa bagi pemerintah daerah setempat untuk menambah dan memperbaiki mekanisme operasional laboratorium melalui penambahan jumlah shift laborat dan pemberian insentif yang sepadan, dan tentunya koordinasi dengan pemerintah pusat. Selain itu, perlu adanya pemeriksaan terkait kesesuaian jenis reagen dengan alat testing yang digunakan. “Kita sadar betul bahwa tidak mudah mencapai sistem kesehatan yang sempurna din negara yang cukup menantang secara geografis seperti Indonesia,” ungkapnya.

Sebagaimana kita tahu kondisi wilayah Indonesia, area wilayahnya yang luas, memiliki ribuan pulau, dan dipisahkan banyak perairan. Meski demikian, Jubir menyatakan optimismenya. “Akan tetapi saya tekankan, bahwa kondisi ideal tersebut bukan tidak mungkin terjadi. Karena pencapaian saat ini sudah 86% lebih,” katanya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada Pemerintah yang terus berupaya meningkatkan pemerataan pembangunan kesehatan serta kemandirian daerah yang berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi peluang ketimpangan di Indonesia akibat aksesabilitas yang berbeda-beda bagi setiap daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *