,

Positivity Rate Tinggi, Kenapa? Ini Penjelasan Menkes

oleh -72 views

“Banyak yang bertanya mengenai positivity rate yang tinggi akhir-akhir ini. Maka kami sampaikan memang positivity rate tinggi, khususnya di hari libur, jumlah yang dites turun. Akibatnya kasus terkonfirmasi juga turun, sehingga positivity rate-nya naik,” demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin, dalam siaran pers secara virtual, Rabu (17/02/2021).

Tanggal 1 – 2 Januari positivity rate nya tinggi, tesnya juga relatif turun. Tanggal 10 – 11 Januari, karena itu weekend  jumlah tesnya turun, kemudian positivity rate-nya naik. Demikian terulang terus. Pola yang sama. Setiap saat-saat libur positivity rate memang naik, terdapat lonjakan karena memang liburannya yang panjang.

Memang, kata Menkes, positivity rate ini pun masih tinggi. Dalam kondisi normal, angka positivity rate Indonesia di kisaran 20%, persen ini masih tinggi. Harusnya positivity rate yang bagus itu di bawah 5%.

“Kami sudah melakukan beberapa analisa, apakah memang positivity rate tinggi ini memang disebabkan karena adanya masalah di lonjakan confirm case yang ada di Indonesia?” kata Menkes

Dalam pengamatan Kementerian Kesehatan, setiap ada liburan panjang dan ketika ada mobilitas manusia tinggi maka akan terjadi kenaikan confirm case (kasus konfirmasi) antara 30-40%.

“Kita lihat contoh terakhir itu di bulan November 2020, terlihat ada penurunan kemudian ada liburan panjang maka pada saat itu langsung naik. Kejadian di liburan lebaran, demikian juga, itu juga naik. Setelah naik, karena memang virus ini sifatnya dalam 14 hari akan mati dengan sendirinya, maka akan menurun,” terang Menkes.

“Yang terjadi adalah, puncak dari kasus konfirmasi setelah liburan panjang nataru itu sudah terlampaui, sehingga confirm case-nya turun. Selain itu juga, mobilitas, sejak naiknya kasus konfirmasi pasca liburan tahun baru, dilakukan pengetatan lewat program PPKM. Sehingga itu juga mengakibatkan kasus konfirmasinya turun,” imbuh Menkes.

Data ini, oleh Kemenkes dipastikan lagi dengan data yang ada di rumah sakit. Hal ini untuk memastikan apakah memang angka penurunan kasus konfirmasi itu benar-benar terjadi atau karena memang jumlah tesnya yang turun? “Kebetulan 4 hari terakhir, karena hari libur, banyak juga orang tidak dites, sehingga jumlah tesnya turun. Maka untuk memastikan, apakah kasus konfirmasi yang turun itu disebabkan jumlah tesnya turun ataukah ada data-data lain yang bisa kita lihat,” ujar Menkes.

Data yang diperoleh Kemenkes menunjukkan bahwa jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit juga turun. Data ini konsisten dengan data di atas bahwa sudah turun relatif sekitar 2 minggu. “Jadi, baik kasus konfirmasi maupun pasien yang dirawat di rumah sakit, sejak 2 minggu terakhir sudah turun, dan turunnya bukan 4 hari terakhir seperti yang kita lihat pada saat jumlah tes kita turun. Jumlah  tes kita (memang) turun 4 hari terakhir, tetapi kasus konfirmasi sudah mulai turun sejak 2 minggu terakhir. Pasien yang masuk rumah sakit juga sudah turun 2 minggu terakhir,” terang Menkes.

Dari data di atas, Kemenkes mengambil kesimpulan, bahwa:

– turunnya jumlah testing itu memang benar-benar disebabkan oleh libur.

– turunnya kasus konfirmasi dan turunnya pasien yang dirawat di rumah sakit memang disebabkan secara fundamental karena laju penularannya berkurang.

Dalam analisa Kemenkes, penurunan laju penularan disebabkan oleh:

– puncak dari laju penularan sejak liburan natal dan tahun baru sudah dicapai, dan

– dampak dari penerapan PPKM sesudah liburan natal dan tahun baru, bisa membatasi pergerakan masyarakat, sehingga mengurangi laju penularan.

“Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, yang paling penting harus kita ingat adalah bagaimana kita bisa mengurangi laju penularan dari pendemi ini,” tandas Menkes.

“Mudah-mudahan dengan data ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa memang sudah ada tren penurunan dari kasus konfirmasi harian dan juga sudah ada tren penurunan dari pasien yang dirawat di rumah sakit harian,” pungkas Menkes.


baca: Ketua Satgas Nasional: Sekarang Ini Klaster Keluarga Adalah Klaster Yang Paling Tinggi

Ketua Satgas Covid-19 Nasional: Covid-19 Bisa Kita Kendalikan Tapi Harus Bersama-sama, Tidak Bisa Sendirian

Ini Target Pemerintah Kapan Negeri Ini Bebas Covid-19, Biidznillah


Beberapa waktu lalu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Doni Monardo, menyampaikan optimisnya bahwa Covid-19 ini bisa kita kendalikan biidznillah, tapi harus bersama-sama, tidak bisa sendirian.

“Saya ulangi lagi, Covid-19 ini bisa dikendalikan tapi tidak bisa sendirian. Tetapi harus bersama-sama. Mulai dari komunitas kita yang terkecil. Keluarga, lantas di kantor, di ruang kerja, orang-orang di sekitar kita,” jelas Jenderal bintang tiga ini dalam diskusi di Media Center Graha BNPB, Kamis (24/12/2020).

Lalu, Bapak Doni Monardo menambahkan aspek berikutnya yang tak kalah penting, yaitu ketulusan. “Jadi kunci utama kita disiplin, dan diimbangi dengan ketulusan hati,” katanya.

Jangan kita cepat berpuas diri, sehingga abai dan lalai. Jangan pula kendor dalam upaya kerja keras dan disiplin protokol kesehatan sebagai salah satu bentuk ikhtiar maksimal.

Beberapa pekan lalu, Bapak Presiden juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat Indonesia, “Meskipun nantinya sudah divaksin, kita tetap jangan lupa protokol kesehatan tetap dijaga secara disiplin. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Ini penting. Karena kuncinya juga ada di situ. Selain vaksinasi, kunci yang kedua adalah menjaga protokol kesehatan. Hindari kerumunan, kurangi mobilitas kemana-mana,” demikian pesan Presiden (27/01/2021) sebagaimana dikutip dari presidenri.go.id.

Tentu upaya manusia akan membuahkan hasil apabila Allah kehendaki. Sehingga di samping berupaya menempuh sebab sesuai pengetahuan yang dimiliki manusia, kita tetap memohon dan berharap pertolongan Allah Ta’ala.

Kita tidak boleh bersandar pada kemampuan dan kekuatan manusia, tidak pula kepada sebab-sebab yang kita lakukan. Namun kita bersandar hanya kepada Allah Ta’ala. Manusia diperintah berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin, Allah Ta’ala yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *