Satgas Covid-19 Nasional: Apabila Tidak, Maka Kita Memperpanjang Pembatasan Kegiatan Ini Sampai Waktu Yang Tidak Bisa Diprediksi

oleh -149 views

Dalam konferensi pers Kamis sore (21/01/2021), Prof. Wiku Adisasmito Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menyampaikan evaluasi perkembangan zonasi di Pulau Jawa-Bali dan perkembangan hasil PPKM di kedua pulau tersebut.

“Jika dilihat lebih spesifik pada perkembangan zonasi risiko di pulau Jawa dan Bali, maka terdapat perkembangan ke arah yang tidak diharapkan selama 4 minggu terakhir,” kata Prof. Wiku dalam konferensi pers yang digelar di Media Center Graha BNPB, Jakarta.

Tren perkembangan zonasi risiko di pulau Jawa dan Bali, sempat mengalami penurunan zona merah pada tanggal 3 Januari 2021, yaitu dari 41 Kab/Kota (pada 27 Desember 2021) menjadi 32 Kab/Kota (pada 3 Januari 2021).

Namun kemudian angkanya meningkat pada minggu setelahnya, yaitu: meningkat menjadi 39 Kab/Kota (pada 10 Januari 2021), bahkan meningkat drastis pada minggu ini, yaitu menjadi 52 Kab/Kota (pada 17 Januari 2021). “Ini berarti hampir setengah dari zona merah di Indonesia berasal dari kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali. Sebagai informasi, zona merah di Indonesia saat ini jumlahnya adalah108 kabupaten/kota,” ujarnya.

Selanjutnya jika dilihat lebih jauh pada zonasi di 73 kabupaten/kota yang menyelenggarakan PPKM, maka per 17 Januari 2021 terdapat:

  • 39 Kab/Kota Zona Merah
  • 30 Kab/Kota Zona Orange
  • 4 Kab/Kota Zona Kuning

“Angka ini meningkat jumlahnya pada zona merah dan orange dibanding minggu sebelumnya,” paparnya.


baca: Kontribusi Jawa dan Bali Sangat Besar Dalam Peningkatan Kasus Covid-19, Harus Segera Dikendalikan. Ini Pemaparan Datanya

Jubir Pemerintah: Ini Alarm Nyaring Bagi Kita Semua


Prof. Wiku melanjutkan, hal ini menandakan bahwa kebijakan intervensi pembatasan kegiatan yang dilaksanakan di Pulau Jawa dan Bali, yang sudah berlangsung selama 1 minggu, masih harus terus dioptimalkan. Kita masih memiliki harapan besar pada intervensi pemberlakuan pembatasan kegiatan ini. Ini baru 1 minggu pelaksanaan. Dampak dari intervensi baru akan terlihat pada minggu ke-3 intervensi dilakukan.

Evaluasi dapat dilakukan terhadap pelaksanaan pembatasan kegiatan yang sudah dilaksanakan selama seminggu ke belakang. “Kondisi ini dapat kita perbaiki secara lebih efektif apabila kita melakukan pembatasan kegiatan masyarakat dengan disiplin dan serius, seperti pada saat PSBB di awal pandemi. Apabila tidak, maka kita akan terus memperpanjang periode pembatasan kegiatan ini terus menerus agar menjadi efektif sampai waktu yang tidak bisa diprediksi,” tegas Wiku.

Kemudian Koordinator Tim Pakar Satgas Nasional ini memaparkan kunci utama untuk memperbaiki ini kondisi ini, yaitu dengan meningkatkan PCR di laboratorium dan memperluas cakupan penelusuran kontak erat. Jika ada daerah yang kesulitan menggunakan pemeriksaan PCR maka dapat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan rapid tes antigen terlebih dahulu sebagai upaya screening. Dengan dua hal ini maka kasus akan lebih cepat dideteksi sehingga mencegah laju penularan yang lebih tinggi lagi, dengan izin Allah. Secara bersamaan dengan dua upaya ini, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga menjadi kunci untuk meningkatkan kesembuhan dan mencegah kematian. Dengan begitu, Insyaallah zonasi risiko yang ada dapat berpindah ke zona yang lebih aman, yaitu zona kuning dan zona hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *