Segera Kembali Kepada Allah Tatkala Musibah Melanda

oleh -245 views
Dilarang mudik

Pandemi Covid-19 merupakan musibah yang Allah Ta’ala turunkan kepada umat manusia di dunia, sebagai ujian dan cobaan bagi mereka. Pertambahan kasus positif, percepatan penularan, jumlah kematian masih terus bertambah dalam hari-hari ini.

Dalam situasi musibah seperti ini, hendaknya kita banyak mengoreksi diri, mengingat betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Dengan itu, akan melahirkan sikap segera kembali berdoa dan tadharru’ (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri). Seraya menyesali dosa-dosa dan kesalahan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (94)

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (al-A’raf: 94)

Inilah di antara hikmah terjadinya musibah.

 

Tiga Kelompok Manusia Dalam Menyikapi Musibah

[ Pertama ] Namun sayang, sebagian orang ketika terjadi musibah tak segera menyadari dosa dan kesalahannya. Ia tidak segera berdo’a, tak segera ber-tadharru’ (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri), tidak pula segera bertaubat kepada-Nya. Malah tetap di atas kelalaian dan kesombongan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ (76)

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (al-Mukminun: 76)

[ Kedua ] Ada juga kelompok manusia, ketika terjadi musibah dan bencana mereka mau berdo’a, ber-tadharru’ dan bertaubat kepada-Nya. Namun ketika Allah mengangkat musibah itu dari mereka, sehingga mereka selamat darinya, ternyata mereka malah berpaling dari Allah Ta’ala. Allah berfirman tentang kelompok manusia yang seperti ini:

{وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (12)} [يونس: 12]

 

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12)

 وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ (42) فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (43) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) } [الأنعام: 42 – 44]

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bertadharru’ (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri). Maka mengapa mereka tidak bertadharru’ (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri) ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am : 42-44)

 

[ Ketiga  ] Yang terpuji adalah kelompok yang ketiga, yaitu orang-orang yang senantiasa beribadah, berdo’a, bertadharru’, dan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan musibah menimpa. Mereka adalah orang-orang yang bersabar dan bersyukur.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Yunus ‘alahis salam:

{وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)} [الأنبياء: 87، 88]

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.(al-Anbiya: 87-88)

Demikianlah, setelah Nabi Yunus alaihis salam berdoa kepada Allah, dengan menunjukkan pengakuannya akan ubudiyyahnya kepada Allah satu-satu-Nya, kemudian mengakui bahwa dirinya termasuk hamba-hamba yang penuh dosa. Maka dengan sebab itu, Allah Ta’ala mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari musibah yang menimpanya. Di sini terdapat pelajaran yang sangat penting, bahwa tauhid (yaitu pemurnian ibadah) kepada Allah Ta’ala satu-satu-Nya tiada sekutu bagi-Nya dan pengakuan hamba atas berbagai dosa dan kesalahannya, sehingga dia pun memohon ampun dan bertaubat kepada Rabbnya, merupakan sebab diangkat musibah dan bencana.

Bencana dan musibah, hendaknya menjadi pengingat penting bagi setiap hamba, untuk dia segera kembali kepada Allah. Segera memperbaiki iman dan tauhid ibadahnya kepada Allah, berdo’a kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya satu-satu-Nya, serta memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya, diiringi dengan bertadharru’ kepada Allah ‘Azza wa Jalla (memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri).

{وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (168)} [الأعراف: 168]

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (al-A’raf: 168)

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)


Baca:


Nasehat Kepada Kaum Muslimin

Mufti Arab Saudi kala itu, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,

“Maknanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kebaikan dan kejelekan serta berbagai kerusakan yang tampak agar umat manusia mau kembali kepada kebenaran, segera bertaubat dari perkara-perkara yang Allah haramkan, dan bergegas melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena kekufuran dan berbagai kemaksiatan merupakan sebab segala bencana dan kejelekan di dunia maupun di akhirat.

Adapun Tauhidullah, beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, mentaati-Nya dan mentaati para rasul-Nya, berpegang teguh dengan syari’at-Nya dan mendakwahkannya serta mengingkari siapa saja yang melanggarnya, maka itu adalah sebab segala kebaikan di dunia maupun di akhirat.        …

Terdapat riwayat shahih dari Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahwa ketika terjadi musibah gempa bumi pada masa beliau, maka beliau segeri mengirim surat (perintah) kepada seluruh staff dan jajarannya di berbagai penjuru negeri, beliau perintahkan pula kepada seluruh kaum muslimin, agar segera bertaubat kepada Allah, bertadharru’(memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri), dan memohon ampun atas dosa-dosa. …

Wahai kaum muslimin, instrospeksi dirilah kalian, bertaubat dan beristighfarlah, bersegeralah untuk mentaati-Nya, waspadalah dari bermaksiat kepada-Nya, saling bekerja samalah dalam kebajikan dan taqwa, berbuat baiklah sesunggungnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik, bersikap adillah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang adil. Siapkanlah persiapan-persiapan yang tepat sebelum datangnya kematian. Sayangilah orang-orang lemah di antara kalian, berbagilah dengan orang-orang faqir di antara kalian. Perbanyaklah dzikrullah dan istighfar. Lakukanlah saling beramar ma’ruf nahi munkar, agar kalian dirahmati. Ambillah pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain yang terjadi disebabkan dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka. Allah pasti menerima taubat orang-orang yang mau bertaubat kepada-Nya, merahmati hamba-hamba-Nya yang mau berbuat baik, dan memberikan akibat baik bagi hamba-hamba yang bertaqwa.” (Majmu Fatwa Ibn Baz 2/126-132 secara ringkas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *