,

Tujuh Penyebab Kerentanan Suatu Populasi Terpapar Covid-19

oleh -68 views

Dalam beberapa waktu terakhir, makin banyak ditemukan beberapa kasus klaster di beberapa daerah. Khususnya pada kelompok populasi yang memiliki karakteristik yang serupa, yaitu binaan pada suatu organisasi yang tinggal bersama. Sebagai contoh terdapat klaster panti sosial di DKI Jakarta dan klaster pesantren di Tasikmalaya.

“Para populasi binaan seperti ini, pada dasarnya tinggal di ruangan yang terbatas atau tertutup,” kata Prof. Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dalam konferensi pers, Selasa, (16/02/2021).

Populasi binaan lainnya yang serupa dengan ini, lanjut Jubir, seperti lansia di panti jompo, anak-anak di panti asuhan, dan narapidana di penjara. Populasi ini memiliki tingkat mobilitas yang minim, namun hidup bersamaan dalam jarak yang sangat dekat. Oleh karena saat ada kasus aktif di sekitar mereka, dengan mudahnya virus menyebar dari orang ke orang (biidznillah) dan akan menimbulkan klaster.

Populasi ini pun dinyatakan rentan oleh WHO akibat situasi khusus tertentu. WHO juga menyebutkan beberapa populasi lainnya, seperti lansia, penderita komorbid, perempuan, wanita hamil, pekerja sektor informal, anak-anak, bahkan orang yang harus menjalani pengobatan rutin, seperti penyandang disabilitas dan penderita HIV Positif.

Lebih lanjut Prof. Wiku memaparkan bahwa pada prinsipnya, kerentanan suatu populasi tertular Covid-19 akan semakin meningkat jika:

  • Pertama, memiliki tempat tinggal yang berdesakan atau tidak layak;
  • Kedua, akses yang rendah terhadap air bersih dan lingkungan yang sehat;
  • Ketiga, ketergantungan tinggi terhadap upah harian sehingga mengharuskan memiliki aktivitas sosial ekonomi yang tinggi;
  • Keempat, akses rendah terhadap pelayanan kesehatan;
  • Kelima, kerentanan bahan pangan dan mall nutrisi;
  • Keenam, berada pada lingkungan konflik bersenjata dan kekerasan;
  • Ketujuh, bagian dari komunitas marginal dan minoritas.

Satgas Covid-19 Pusat mengajak masyarakat untuk saling bergotong royong khususnya Posko setempat, yaitu aparat desa dan mitra desa seperti: Satlinmas, Babinsa, Babinkamtibmas, dan tokoh masyarakat untuk melakukan upaya antisipatif dengan:

  • – memprioritaskan populasi rentan dalam mengurangi potensi penularannya, baik melalui promosi kesehatan yang menyesuaikan karakteristik populasi, serta
  • – tersedianya fasilitas dan prasarana yang mendukung untuk menjalankan protokol kesehatan.
  • – Jika ditemukan kasus positif, maka perlu adanya penyesuaian skenario pengendalian berdasarkan kondisi yang ada, yaitu menyesuaikan status zonasi RT/RW setempat.

“Kita semua berharap, bahwa usaha kita untuk melaksanakan intervensi yang spesifik dan semakin dekat dengan hulu atau sumber penularan akan semakin mempercepat pendeteksian dini dan upaya pencegahan kasus. Sehingga klaster seperti ini dapat dicegah,” pesan Jubir.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, merupakan salah satu dari ajaran Islam. Mengutip Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi, beliau mengatakan, “Di antara perkara penting adalah menyebarkan edukasi kesehatan kepada anggota masyarakat.  Karena menyebarkan edukasi kesehatan, dan memberikan promosi kesehatan kepada masyarakat merupakan di antara sebab pencegahan penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati.”

Sumber: Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Covid-19, Selasa, 16 Februari 2021 di Media Center Graha BNPB, Jakarta.

 

baca: Pesan Mufti Arab Saudi: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *