,

Tuntunan Islam Dalam Pencegahan Penyakit Menular

oleh -255 views

Islam merupakan agama yang sempurna. Islam mengatur segala hal yang membawa kemashlatan bagi manusia dan mencegah berbagai hal yang membahayakan umat manusia. Di antara misi utama yang dibawa oleh agama Islam adalah menjaga lima perkara yang sangat mendasar, yaitu:

  1. Menjaga Agama;
  2. Menjaga Jiwa;
  3. Menjaga Akal;
  4. Menjaga Kehormatan;
  5. Menjaga Harta.

Termasuk dalam menjaga jiwa adalah segala hal yang berkaitan dengan kesehatan dan pencegahan penyakit. Al-Qur’an al-Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam telah menjelaskan prinsip-prinsip dan menyebutkan banyak hal berkaitan penjagaan kesehatan, pengobatan, dan pencegahan penyakit. Sehingga dikenal dalam Islam ath-Thib an-Nabawi (Kedokteran Nabawi). Para ulama dalam kitab-kitab hadits dan fiqh juga tidak melewatkan pembahasan seputar masalah kedokteran, kesehatan, pengobatan, maupun pencegahan penyakit. Pada masing-masingnya terhadap hukum-hukum fiqh yang berkaitan. Termasuk pembahasan tentang penyakit menular dan wabah penyakit, Islam tak melewatkannya.

Ini menunjukkan betapa Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam merupakan agama yang sempurna, lengkap, dan mencakup. Benar-benar Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin.

Islam Mengajarkan Tindakan Preventif

Dalam Kitab Shahih-nya, pembasahan tentang Kedokteran, Bab Penyakit Kusta, Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

“Larilah dari orang yang terkena lepra/kusta, sebagaimana kamu lari dari singa.” (HR. al-Bukhari no. 5707)

Dalam kitab Zadul Ma’ad, pada pembahasan tentang ath-Thibb an-Nabawi (Kedokteran Nabawi), Imam Ibnul Qayim rahimahullah memaparkan sebuah pembahasan dengan judul, “Pasal tentang bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengambil langkah preventif dari penyakit-penyakit yang menular, serta bimbingan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang-orang yang sehat untuk menjauhi orang-orang yang terjangkit penyakit tersebut.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Karena kasih sayangnya yang sangat besar terhadap umatnya dan dorongan memberikan nasehat kepada umat, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam melarang umat dari melakukan sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada sakit dan kerusakan pada fisik dan hati mereka.” (Zadul Ma’ad 4/136).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk melakukan tindakan preventif (pencegahan) dalam bentuk menghindari sebab-sebab terjadinya penularan penyakit.

 

Penyakit Menular Tidak Terjadi Dengan Sendirinya, Namun Dengan Taqdir Allah. Manusia Wajib Menempuh Sebab

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

“Hadits ini (perintah untuk lari dari orang yang sakit lepra, pen) termasuk menjauhi sebab-sebab kejelekan. Adapun penularan seperti yang diyakini oleh orang-orang kafir maka itu adalah batil, yaitu keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya, menular secara alami tanpa taqdir dan kehendak Allah, maka ini keyakinan batil.

Adapun penyakit berpindah dari orang sakit kepada orang sehat dengan izin Allah, maka ini bisa terjadi. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Larilah dari orang yang terkena penyakit lepra, sebagaimana engkau lari dari singa.” yakni jangan kamu duduk (bergaul/berinteraksi) bersamanya, karena penyakitnya bisa menular kepadamu.  …

Ringkasnya: bahwa syari’at mengajarkan untuk menjauhi sebab-sebab kejelekan, diiringi dengan keimanan bahwa segala perkara ada di tangan Allah, bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun keyakinan orang-orang musyrik bahwa penyakit menular berpindah secara pasti dengan cara penyebarannya dan tabiatnya, maka ini adalah keyakinan batil.

Adapun penyakit berpindah dengan izin dan kehendak Allah, maka ini terjadi. Oleh karenanya, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menempuh sebab-sebab perlindungan (pencegahan). Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Onta yang sakit janganlah dicampur dengan onta yang sehat.”; Beliau Shallallahu alaihi wa Sallam juga bersabda, “Larilah dari orang yang terkena penyakit lepra, sebagaimana engkau lari dari singa.” Padahal Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah memegang tangan orang yang sakit lepra/kusta dan makan bersamanya, beliau mengatakan, “Makanlah dengan mengucapkan Bismillah, percayalah kepada Allah.” Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam melakukan itu untuk menjelaskan bahwa segala urusan ada di tangan Allah dan bahwa hanya Allah Ta’ala yang telah mentaqdirkan segara urusan.

Apabila menjauh dari berinteraksi dengan orang-orang yang sakit lepra maka ini perkara yang dituntunkan oleh syari’at dalam rangka menjauh dari kejelekan (bahaya). Namun kalau melakukan hal itu dan makan bersama orang yang sakit lepra, dalam rangka menjelaskan kepada umat bahwa penyakit tidaklah menular dengan sendirinya, namun hanyalah menular dengan taqdir Allah. Maka jika seseorang melakukan hal ini kadang-kadang dalam rangka meruntuhkan keyakinan orang-orang jahil, maka itu bagus sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam.

Namun wajib melakukan sebab-sebab, seseorang wajib menjauh dari sebab-sebab kejelekan (bahaya), mewaspadai sebab-sebab sakit, dan tidak boleh menjerumuskan dirinya kepada bahaya. Bersama dengan itu, dia harus bersandar dan bertawakkal kepada Allah, dan meyakini bahwa segala perkara ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Bertawakkallah hanya kepada Allah, jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (al-Maidah: 23)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه

“Barangsiapa yang bertawakkal hanya kepada Allah maka Dia sebagai penjaminnya.” (ath-Thalaq: 3)

Namun dengan disertai menjauhi sebab-sebab kejelekan. Jangan bercampur (berinteraksi) dengan orang sakit yang penyakitnya bisa menular dengan izin Allah. Jangan pula bergaul dengan orang-orang jelek (akhlaq atau aqidahnya) karena seseorang bisa tertimpa kejelekan yang menimpa orang-orang tersebut. Hendaknya dia mementingkan untuk berteman dengan orang-orang baik, karena itu merupakan di antara sebab-sebab agar bisa berakhlaq seperti akhlaq mereka. Demikian juga jangan memakan makanan-makanan yang diketahui bisa membahayakan, dan sebab-sebab lainnya.

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 3/388-390)


baca: Ketua Satgas Covid-19 Nasional: Hingga Saat Ini Patuh Protokol Adalah Vaksin Terbaik

Nasehat Asy Syaikh Shalih Al Fauzan: Doa dan Istighatsah Hanya Kepada Allah


Dalam kesempatan lain, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:

“Larilah dari orang yang terkena lepra/kusta, sebagaimana kamu lari dari singa.” Makna hadits ini: jauhkanlah orang yang sakit dari orang yang sehat apabila dikhawatirkan terjadi penularan darinya. Jangan dicampur orang yang sehat dengan yang sakit. Ini maknanya adalah menjauhi sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya perpindahan penyakit.

Namun selayaknya harus ada keyakinan bahwa tidak ada penyakit menular secara alami (dengan sendirinya), tidak boleh meyakini perpindahan penyakit ketika dia menular bukan karena dia menular dengan sendirinya tanpa izin dan kehendak Allah. Bisa menular namun dengan kehendak,izin, dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang mampu memindahkan sesuatu kepada sesuatu yang lain kecuali dengan izin dan taqdir Allah, baik itu hewan, manusia, dan lainnya, semuanya adalah dengan taqdir Allah.

Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

«كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ، حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ »

“Segala sesuatu itu terjadi dengan taqdir, bahkan sampai kondisi tidak mampu dan semangat (juga dengan taqdir).” (HR. Muslim 2655)

Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang agung:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَر

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu berdasarkan taqdir.” (al-Qamar: 49)

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menaqdirkan segala sesuatu, baik sehat maupun sakit, safar atau mukim, demikian pula anak, apakah laki-laki atau perempuan, hidup maupun mati, dan lainnya. Semua telah berdasarkan ketetapan taqdir yang telah lalu dari Allah ‘Azza wa Jalla.

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 3/393).

 

Serius Melakukan Tindak Pencegahan

Ini berkaitan dengan penyakit menular yang bersifat personal, Islam telah mengajarkan untuk kita melakukan langkah-langkah pencegahan dari segala hal yang bisa menjadi sebab penularan penyakit tersebut dengan izin Allah. Lalu bagaimana jika penyakit menular telah menjadi wabah yang bisa mengancam nyawa banyak manusia. Maka tentu harus lebih waspada dan perlu ada langkah lebih serius untuk pencegahan dan pengendalian wabah tersebut, dengan tetap senantiasa memohon pertolongan Allah dan bersandar kepada-Nya.

Termasuk pandemi Covid-19 yang kita tengah melanda dunia. Maka langkah pencegahan terbaik adalah selalu disiplin protokol di mana pun dan kapan pun. Ini sebagai sebab pencegahan dari bahaya Covid-19 ini dengan izin Allah. Sebagaimana hal ini telah dianjurkan dan diingatkan oleh pemerintah. Yaitu agar masyarakat senantiasa waspada dan disiplin protokol. Serta diiringi upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *