,

Vaksin Dan Protokol Kesehatan Saling Melengkapi Sebagai Lapisan Proteksi

oleh -77 views

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan satu intervensi kesehatan saja. Seperti hanya mengandalkan vaksin saja agar tidak tertular virus Covid-19. Menerapkan disiplin protokol kesehatan yang ketat adalah upaya melengkapi intervensi kesehatan sebagaimana disebutkan dalam analogi Swiss Cheese Model.

Merujuk pada laman covid19.go.id, berbagai intervensi penanganan Covid-19 diibaratkan celah pada lapisan keju yang saling menutupi satu dengan lainnya dan tidak dapat ditembus dari luar. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan lapisan keju itu bagaikan setiap jenis intervensi penanganan Covid-19 dengan celahnya masing-masing yang semakin signifikan mencegah infeksi jika dilakukan bersamaan.

“Hal ini akan berlaku sebaliknya, jika masyarakat hanya mengandalkan satu intevensi tunggal, maka kekurangan yang ada tidak akan tersokong dan malah akan memperburuk keadaan,” Wiku menyampaikan keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (4/2/2021), sebagaimana dikutip dari covid19.go.id.

Penting diingat, bahwa bukan hanya tingkat efektivitas suatu intevensi, namun juga sangat bergantung dengan lapisan proteksi majemuk. Sebagai contoh, jika terdapat dua orang memakai masker dan hanya salah satu yang memakai masker 3 lapisan dan tepat menutup hindung dan mulut, maka sudah bisa ditebak mana yang lebih berisiko terpapar Covid-19.

“Karenanya, upaya vaksinasi yang dilakukan saat ini, tentunya tidak semata-mata menjadi satu-satunya upaya melindungi masyarakat dari penularan Covid-19. Vaksinasi tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi dengan protokol kesehatan,” tambah Wiku.


baca: Kunci Utama Menghadapi Musibah Covid-19: Iman, Aman, Imun

Jubir Pemerintah: Selain Vaksinasi, Protokol 3M, Menghindari Kerumunan, dan Membatasi Mobilitas Tetap Harus Dilaksanakan Secara Ketat

Taubat Nasuha Tatkala Wabah Melanda


Untuk itu selama belum tercapai kekebalan komunitas atau herd immunity, maka pencegahan paling efektif adalah kepatuhan protokol kesehatan oleh seluruh individu. Upaya edukasi dan komunikasi kepada masyarakat harus dilakukan seimbang antara vaksinasi dan protokol kesehatan. Langkah penanganan pandemi Covid-19 tidak bisa dilakukan secara tunggal, harus komprehensif dengan melibatkan protokol kesehatan yang ketat demi menekan lebih banyak jumlah orang yang terinfeksi.

Pada waktu bersamaan, upaya ini harus didukung pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sehingga mereka yang sakit semakin sedikit, dan mendongkrak angka kesembuhan. Dan hal ini akan menjadi sempurna jika vaksinasi dilakukan untuk mengurangi kerentanan terinfeksi, pengembangan keparahan gejala penyakit dan peluang penularan kepada orang lain.

“Kedepannya saya berharap setiap elemen masyarakat, baik pemerintah, akademisi, komunitas, penggiat usaha maupun media memiliki pola pikir yang lebih luas dan mendalam. Untuk menjalankan upaya penanganan Covid-19 secara lebih komprehensif demi penanganan kesehatan yang lebih signifikan ke arah yang lebih baik,” pungkas Wiku.

Apa yang disebutkan di atas adalah upaya menempuh sebab kesehatan, pencegahan penyakit, dan keselamatan. Menempuh sebab-sebab tersebut tidak bertentangan dengan tawakkal, bahkan itu merupakan bagian dari tawakkal. Kita bersandar kepada Allah Ta’ala, tidak boleh bersandar kepada sebab. Namun kita tidak boleh mengabaikan sebab, karena Allah taqdirkan segala sesuatu dengan sebab-sebabnya. Hanya Allah Ta’ala yang mampu menghilangkan pandemi ini. Maka hanya kepada-Nya kita berdoa memohon agar pandemi segera berakhir. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *