Wabah Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) Antara Ujian dan Hukuman

oleh -1.423 views
Antara Ujian dan Hukuman

Dalam beberapa bulan terakhir, publik internasional dikejutkan dengan tersebarnya penyakit Covid-19 oleh virus Corona Wuhan (SARS-CoV-2). Bermula dari negara komunis Cina, dilaporkan ratusan kasus inveksi Corona, disusul beberapa negara di belahan dunia lainnya juga melaporkan kejadian serupa. Semua kasus ada riwayat perjalan dari Wuhan, Cina! Kemudian secara mengejutkan wabah ini menyebar berbagai negera di dunia. Hingga pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai Pandemi (wabah internasional).

Info terbaru (per 4/04/2020), dilaporkan 1.119.109 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di seluruh dunia, 53.975 orang di antaranya meninggal dunia. Laahula walaa quwwata illa billah. Peristiwa apakah ini? Cobaan/Ujian? Ataukah Hukuman?

Segala peristiwa di alam ini terjadi berdasarkan ketentuan taqdir Allah ‘Azza wa Jalla. Tak ada satu pun peristiwa di alam ini yang terjadi tanpa kehendak-Nya, termasuk sehat dan sakit, senang dan susah, musibah dan bencana.

Dalam al-Qur’an, Allah Ta’ala berkata,

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22)} [الحديد: 22]

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Wabah Penyakit Terjadi Dengan Taqdir Allah

Termasuk bagian dari taqdir Allah Ta’ala adalah terjadinya wabah penyakit. Peristiwa menyebarnya wabah penyakit dengan pesat, seperti yang terjadi baru-baru ini yaitu wabah Covid-19 yang mengejutkan dunia, merupakan salah satu musibah yang telah ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Musibah yang menimpa, bisa merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman. Agar mereka bersabar dan tetap istiqomah di atas iman kepada-Nya.

Bencana Akibat Dosa Manusia

Musibah dan bencana juga bisa merupakan hukuman Allah Ta’ala terhadap sebagian manusia, akibat dosa dan kemaksiatan yang mereka perbuat. Allah Ta’ala berkata,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30)} [الشورى: 30]

Segala musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(asy-Syura: 30)

Pakar dan imam ahli tafsir terkemuka, Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan tentang tafsir ayat di atas: “Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 21/538)

Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah Ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya. Ada yang mengalami musibah banjir bandang, ada yang mengalami gempa bumi yang sangat keras, ada yang ditenggelamkan dalam bumi, dan berbagai bencana dan musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berkata,

{فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)} [العنكبوت: 40]

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut : 40)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:

– tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (yakni wabah) tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

– tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.

– tidaklah sebuah kaum menolak membayar zakat hartanya, kecuali akan terhalangi hujan dari langit, kalau bukan karena keberadaan hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan sama sekali.

– tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.

– apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan mereka akan menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah 4019, lihat ash-Shahihah no. 106)

Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa, penjajahan, dan ditimpa oleh akibat dari kejelekan diri sendiri, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri. Allah timpakan bencana-bencana tersebut sebagai hukuman dari-Nya.

Jangan Sombong dan Takabbur

Beberapa waktu lalu seorang kepala negara, dengan pongahnya menyatakan bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bisa menggoncangkan negaranya. Laahaula wala Quwwata illa billah. Ucapan ini didengar oleh masyarakat internasional. Betapa sombong dan takabbur dia!

Hal ini mengingatkan kita dengan kesombongan bangsa ‘Ad, yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an:

{فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (15) فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ (16)} [فصلت: 15، 16]

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (Fushilat: 15-16)

Sikap Muslim Terhadap Wabah Covid-19

  1. Hendaknya jangan panik, namun tetap waspada.

    Demikianlah sikap seorang yang beriman. Waspada: dengan cara menempuh sebab-sebab keselamatan dan pencegahan penyakit menular. Baik sebab-sebab yang diajarkan dalam agama (sebab syar’i), maupun sebab-sebab secara medis.
    Tidak panik: karena seorang mukmin ketika melakukan sebab-sebab, maka dia tidak bersandar kepada sebab tersebut. Namun dia bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Karena Dialah yang menentukan sehat dan sakit, celaka dan bahagia, dan seterusnya. Demikian pula sebab-sebab, akan memberikan hasil juga dengan izin Allah dan kehendak-Nya. Inilah sikap tawakkal yang diajarkan dalam Islam.

    Jika seorang mukmin bertawakkal dengan makna yang benar, maka Allah Ta’ala telah menjamin:

    { وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه} [الطلاق: 3]

    Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan menjadi penjamin baginya.” (ath-Thalaq: 3)

    Jika Allah yang menjadi penjamin seorang hamba, maka adakah yang dikhawatirkan oleh sang hamba tersebut?

  2. Apabila terjadi wabah penyakit di suatu wilayah atau negara, maka sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam :

    «إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»

    Apabila kalian mendengar tentangnya (Tha’un) terjadi di suatu wilayah maka janganlah kalian mendatanginya. Apabila terjadi di suatu wilayah yang kalian berada padanya, maka janganlah kalian keluar darinya karena lari darinya.” (HR. Al-Bukhari 5730, Muslim 2219; dari shahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu)

    Hikmahnya adalah agar orang yang belum terkena, bisa tercegah dari penyakit tersebut. Sebaliknya, orang yang berada di daerah wabah, tidak keluar supaya tidak membawa penyakit tersebut keluar daerahnya. Sehingga persebaran wabah tidak semakin meluas.

    Hadits tersebut ketika terjadi penyakit tha’un. Namun terdapat kesamaan antara wabah tha’un dengan wabah Covid-19 dari sisi cepatnya penularan, tersebar luas, dan sama-sama mematikan.

    Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya dengan pertanyaan berikut:

    Apakah semua penyakit , seperti Kolera, bisa diqiyaskan dengan Tha’un?”

    Maka beliau menjawab, “Apabila terjadi di sebuah negeri, dan dikenal bahwa berpengaruh kepada kesehatan manusia (dalam hal penularan yang cepat dan tersebar luas, serta mematikan, pen), maka penyakit seperti itu adalah seperti tha’un. (sumber: situs resmi asy-Syaikh bin Baz).

    Dalam ilmu kedokteran, untuk pencegahan Covid-19 ini pun juga sangat dianjurkan agar tidak masuk ke wilayah yang sudah terjangkit Covid-19, dan sebaliknya orang yang berada di wilayah terjangkit Covid-19 hendaknya tidak keluar dari daerahnya tersebut. Demi memutus rantai penularan, dan mengurangi penyebarannya.

  3. Wabah penyakit bisa mengenai siapa saja.

    Terdapat sebab-sebab menularnya sebuah penyakit, namun penularan itu tidaklah terjadi kecuali dengan izin Allah. Seorang mukmin harus yakin bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah dengan taqdir Allah. Termasuk hidup dan mati, selamat dan celaka, sehat dan sakit, semuanya dengan izin Allah. Namun demikian, seorang mukmin harus tetap berikhtiar, dengan melakukan sebab-sebab yang bisa mencegah terjadinya penyakit dan menghindari sebab-sebab yang bisa membuat sakit atau tertulari penyakit. Adapun hasilnya, maka serahkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jangan bersandar kepada sebab. Inilah sikap tawakkal kepada Allah Ta’ala.

  4. Seorang muslim ketika melihat terjadi musibah menimpa orang lain, maka segera dia berdo’a kepada Allah:

    الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً

    Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjagaku dari musibah yang menimpamu, dan mengutamakanku di atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan keutamaan yang besar.”

    Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa barangsiapa melihat seorang tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan doa itu, maka pasti dia dijaga oleh Allah dari musibah tersebut selama hidupnya. (HR. at-Tirmidzi 3431)

  5. Segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah Ta’ala atas berbagai dosa.

    Segera tinggalkan segala kemaksiatan dan segeralah minta ampun kepada Allah. Di samping memperbanyak doa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan memohon keselamatan dan kesehatan. Baik untuk diri sendiri dan keluarga, maupun untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

  6. Ikutilah petunjuk dan imbauan-imbauan pemerintah.

    Alhamdulillah pemerintah Indonesia telah banyak menyampaikan himbauan-himbauan terkait pencegahan Covid-19, baik melalui Kemenkes RI maupun lainnya. Pada tanggal 13 Maret 2020 Presiden RI telah mengeluarkan Keppres tentang pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

    Di antara himbauan terpenting pemerintah:

    1. Selalu terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
    2. Sering-sering melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) atau menggunakan hand sanitazer.
    3. Hindari kontak jarak dekat kurang dari 1 meter.
    4. Terapkan Social Distancing (jaga jarak sosial) dan Physical Distancing (jaga jarak fisik).
    5. Jauhi kerumunan.
    6. Bersihkan ruangan dengan cairan disinfektan, terutama pada bagian-bagian yang sering tersentuh tangan.
    7. dan masih banyak lagi.

    Pemerintah juga memberikan petunjuk dalam bentuk protokol-protokol pencegahan Covid-19 ketika di ruang publilk, di masjid, di pondok pesantren, dll.

    Semua itu hendaknya benar-benar diperhatikan dan diikuti oleh setiap muslim. Sebagai bagian dari penerapan prinsip ketaatan kepada waliyyul amr (pemerintah).

    Wabillahi at-taufiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *