,

Wapres RI: Menjaga Diri Dari Penularan Penyakit Atau Bahaya Itu Hukumnya Wajib

oleh -212 views

Menjelang Ramadan seluruh umat muslim di Indonesia bersiap dapat kembali beribadah secara berjemaah. Mengingat saat ini masih dalam pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Wakil Presiden RI menyampaikan bahwa pemerintah membolehkan ibadah salat tarawih berjamaah di masjid-masjid dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Namun, untuk wilayah yang masih berada di zona merah, dianjurkan untuk tetap beribadah di rumah. Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden RI menyampaikan prinsip penting tentang pelaksanaan ibadah dan prinsip kewajiban menjaga diri dari penularan penyakit dalam Islam.

“Anjuran MUI dalam taushiyyah-nya bagus sekali. Perlu disosialisasikan. Daerah yang masih dalam zona merah, itu dianjurkan menggunakan rukhsah (keringanan) atau kemurahan-kemurahan yang diperbolehkan, yaitu tidak melakukan tarawih atau tadarus di tempat umum atau masjid-masjid, tapi dilakukan di rumah saja, untuk menghindari penularan,” ungkap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat membuka acara melalui konferensi video dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Jumat malam (09/04/2021).

Lebih jauh Wapres mengingatkan bahwa anjuran itu sangat benar. Karena shalat tarawih itu hukumnya sunnah, sedangkan menjaga diri dari penularan penyakit atau bahaya itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, Wapres meminta segenap kaum muslim memprioritaskan upaya menekan penularan Covid-19.

Pertimbangan yang sama juga berlaku untuk mudik. “Begitu juga kenapa pemerintah melarang mudik. Itu karena pengalaman tahun lalu, terjadi peningkatan [penularan] Covid-19 sampai 90% ketika mudik. Untuk itulah kenapa, menjaga itu, kemudian dilarang mudik. Saya kira kedudukannya itu sama saja, bahwa mudik atau silaturahim itu sunnah, tetapi ada bahaya, menjaga dari wabah ini yang adalah wajib, karena itu kita harus mendahulukan sesuatu yang lebih penting di atas yang penting.” ujar Wapres.

Wapres mengimbau untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan ini (kepada masyarakat), dalam rangka menjaga masyarakat dari kemungkinan naiknya kembali (penularan) Covid-19, akibat kita tidak bisa menjaganya (biidznillah, red). Seperti yang terjadi di beberapa negara, sekarang terjadi kenaikan-kenaikan.

Begitu pula vaksinasi, diingatkan oleh Wapres, bahwa vaksinasi adalah upaya untuk memutus penularan supaya masyarakat Indonesia mencapai herd immunity. Itu bisa dicapai kalau yang divaksin mencapai 70%, biidznillah. 70% itu sama dengan 181,5 juta penduduk Indonesia. Karena itu vaksinasi hukumnya fardhu kifayah, kita berdosa jika tidak ikut vaksinasi sebelum herd immunity itu tercapai. Kalau sudah tercapai, maka sudah gugur kewajibannya.

Dalam kesempatan yang sama, Wapres mengimbau agar Ramadan dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki diri serta memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memohon inayah-Nya (perlindungan), khususnya dari segala bencana yang tengah melanda Indonesia.

“Seperti kita tahu bahwa bulan Ramadan adalah bulan maghfiroh (ampunan). Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan Ramadan [sebagai] bulan untuk memohon ampun kepada Allah. Karena kita menyadari bahwa kita semua tidak ada yang luput dari dosa, kita bukan makhluk yang maksum (terpelihara dari dosa). Juga memohon perlindungan-Nya, inayah-Nya, karena kita bukan orang yang dijamin [masuk surga],” imbau Wapres.

“Bulan Ramadhan menjadi momentum penting untuk kita melakukan perbaikan diri kita, mengajak umat untuk juga berbuat kebaikan, dan juga menjaga diri dari bahaya yang masih mengancam di sekitar kita, supaya kita tetap sehat, tetap bisa beribadah dengan baik. Kita menggunakan Ramadhan, tapi juga kita mematuhi protokol-protokol kesehatan dalam rangka al-Ihtiraz minal Waba’ (menjaga diri dari wabah),” pungkasnya.

 

Sumber: wapresri.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *